Showing posts with label Bejen. Show all posts
Showing posts with label Bejen. Show all posts

Saturday, July 13, 2013


Ternyata tuntutan untuk menulis sejarah ini harus berjalan lagi ditengah minimnya referensi yang mengupasnya lebih dalam. Sebelumnya, sudah pernah ditampilkan artikel mirip seperti ini dengan judul Tari Leyek. Tapi itu jauh dari referensi yang jelas sumbernya. Meski awur-awuranjalan opini saya tetapi sebuah tuntutan untuk menulis lagi menjadikan saya untuk belajar lagi lebih dalam. Prolog.

Di mata masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya di Kabupaten Bantul, terdapat suatu kesenian yang merupakan asli dari karya masyarakat Bantul. Perpaduan antara budaya Jawa dengan budaya Islam meleburnya menjadi sebuah sajian langka di zaman sekarang. Terlebih, kesenian ini hanya terkenal seperti di daerah sekitar Makam Sewu, sebagian Bantul Kota, dan daerah Jejeran.

Tidak terlepas dari tokoh sejarah yang bermain di belakangnya. Seperti Ki Ageng Mangir, Panembahan Bodho dan sepertinya ada juga tokoh Ki Ageng Jejer. Mereka hidup se-zaman. Masa akhir Kasultanan Demak, masa Kasultanan Pajang dan awal Kasultanan Mataram. Dan jangan lupakan peran Sunan Kalijaga dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.

Jaringan Jalasutera, sebuah jaringan para wali dari alas Mentaok hingga Demak Bintoro. Melalui jaringan inilah, Sunan Kalijaga melebarkan sayap dakwahnya melalui santri-santrinya. Salah duanya adalah, Panembahan Bodho dan Ki Ageng Jejer. Panembahan Bodho bertugas di Bantul sebelah Barat sedangkan Ki Ageng Jejer bertugas di Bantul sebelah Timur.

Hubungan inilah yang memungkinkan, kesenian Rodat seperti berpusat di tempat keduanya bersemayam. Panembahan Bodho yang berdomisili di daerah Wijirejo dan Ki Ageng Jejer yang berdomisili di Jejeran. Tidak hanya kedua daerah tersebut yang berkembang kesenian Rodat. Santri-santri dan ahli bait kedua tokoh tersebut pun mengembangkan kesenian ini di daerahnya.

Salah satunya adalah Bejen. Sebuah daerah di arah tenggara dari pusat kota Bantul. Sebuah kademangan besar di masa lalu. Di sini ditemukan salasilah keturunan dari Panembahan Bodho dan juga ada sebagian santri dari Ki Ageng Jejer. Dan ditemukan pula sisa-sisa peninggalannya berupa kesenian Rodat.

Rodat, kesenian tabuhan rebana khas jawa dengan suguhan menari yang elok. Versi ini mengartikan bahwa Rodat adalah seni tabuhan rebana sedangkan suguhan tarian tersebut bernama Tari Leyek. Keduanya memang tidak dapat dipisahkan, sehingga cara pengartian yang berbeda adalah hal yang wajar. Dan kesenian inilah yang merupakan hasil dari olah keterampilan masyarakat Bantul sendiri.
Puluhan reaja masjid Bejen keliling kampung membangunkan orang sahur. (Foto : Yusron Mustaqim)
BANTUL (KRjogja.com) - Di pagi yang sunyi terdengar musik klotekan berusaha memecah keheningan malam. Meski hanya menggunakan alat musik kentongan, bas dari paralon bekas tetapi menghasilkan suara merdu. Secara kompak puluhan pemuda melantunkan lagu-lagu salawat, lagu nasional maupun lagu pop ngetren saat ini.

Suasana ini selalu terlihat setiap pagi dini hari selama bulan Ramadan di Dusun Bejen Bantul. Sejak pukul 02.00 WIB puluhan pemuda yang tergabung dalam remaja masjid Darussalam berkumpul bersama di depan masjid. Dengan membawa alat musik seadanya, bahkan ada bekas besi gergaji mesin pun digunakan sebagai alat musik.

“Ini spontanitas kami lakukan saat bulan Ramadan tiba. Setiap pagi menjelang sahur kami berkumpul bersama untuk gugah-gugah(membangunkan ,red) masyarakat untuk sahur. Dengan alat musik seadanya kita keliling kampung bersama,” kata Jazid Maskul (23), seksi takjilan dan penjaga gudang remaja masjid Darussalam saat ditemui KRjogja.com di sela-sela keliling kampung, Jumat (12/07/2013).

Disebutkan, kegiatan tersebut menjadi salah satu even rutin yang telah digelar sejak 5 tahun terakhir ini. Kehadiran musik klotekan ini memang selalu ditunggu-tunggu masyarakat luas. Karena banyak warga menggantungkan rombongan pemuda ini untik menyiapkan santap sahur. (Usa)

http://krjogja.com/read/180054/cara-remaja-masjid-bejen-bangunkan-sahur.kr

Sunday, November 27, 2011

Kademangan merupakan kembangan dari sebuah kata dasar "demang" yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai artian kepala distrik atau wedana pada zaman pemerintahan Belanda. Sehingga, dapat dibilang kademangan merupakan suatu wilayah yang dipimpin oleh seorang Demang.

Bejen, sebuah pedukuhan di kelurahan Bantul. Letaknya tenggara jantung kota Bantul, mungkin sekitar satu kilonan meter bila diambil sebuah garis lurus. Rumah Sakit Panembahan Senopai Bantul diambil garis lurus ke barat sekitar 200an meter. Inilah sebuah dusun yang mempunyai nama Bejen.

Banyak cerita yang menceritakan sebuah sejarah di mana Bejen merupakan sebuah nama kuno. Menurut pengamatan penulis, nama Bejen mungkin sudah ada bersamaan dengan nama Kademangan Ngepal (Palbapang sekarang) atau lebih muda puluhan tahun setelah itu.

Sekedar untuk mencicil sebuah proyek penulisan sejarah Bejen, mungkin ada beberapa analisa yang dapat menjadi acuan bila Bejen merupakan sebuah Kademangan dan merupakan desa kuno pula.

1. Sebuah sil-silah tentang trah Bejen yang berasal dari keturunan Prabu Brawijaya V (Prabu Kertabhumi). Dalam hal ini, mungkin pada generasi ke-berapa dari darah Brawijaya mulai menetap di Bejen. Dalam sil-silah ini disebutkan pula nama Panembahan Bodho yang berada di daerah Wijirejo, Pandak.


2. Adanya cerita tentang rumah-rumah megah dan besar-besar lengkap beserta pagar-pagar menjulang di daerah Bejen, meski saat ini semua itu mungkin telah hilang. Namun, cerita turun temurun pun juga merupakan referensi yang cukup baik untuk dikembangkan lebih lanjut. Khususnya terhadap sebuah nama yang menjadi sesepuh Bejen yakni Simbah Demang putera dari Josetro alias Setro Menggolo alias Joyo Setiko.

3. Sebuah cerita dari kyai-kyai sepuh tentang perjalanan Sunan Cirebon yang berusaha menangkap lintang yang jatuh di Makam Imogiri pada zaman Sultan Agung Hanyokrokusumo. Tepat disekitar Langgar Al Mujahiddin (Pondok Pesantren Hidayatul Falaah) itulah Sunan Cirebon sekedar melepas penat sambil menunaikan ibadah sholat. Konon, dahulu ada seorang kyai yang melihat cahaya cemlorot dari daerah langgar tersebut.

4. Sebuah kesenian Sholawatan Rodat yang merupakan peninggalan Panembahan Bodho di daerah Wijirejo. Kemungkinan karena ada salah satu trah Bejen yang mempunyai darah Panembahan Bodho, proses adanya Kesenian Rodat di Bejen melalui sebuah mobilitas budaya oleh keturunan Panembahan Bodho. Sampai saat ini, kesenian tersebut masih lestari dan menjadi khasanah kebudayaan di Bejen.

Wilayah cangkupan Kademangan Bejen belum diketahui secara pasti atau hanya menyusuri kisah-kisah lama tentang Bejen. Kemungkinan wilayah Pedukuhan Bejen saat ini ditambah beberapa wilayah lain. Semua ini tidak akan menjadi legenda bila tidak ada nama yang menjadi sebuah tanda tanya besar bagi keturunan Bejen, yakni nama Kyai Demang di Bejen dalam suatu sil-silah yang diberikan oleh Simbah Badjuri (Bejen RT 06), almarhum Simbah Djalal Syayuti, serta Simbah Moch, Maksum (kaum rois Bejen).

Friday, November 25, 2011

Mengapa judulnya "Tegal Kedinding"?
Adakah yang bertanya sedemikian rupa seperti pertanyaan saya? Jawabnya butuh panjang bulet deh kalo nerangin ini judul aneh banget. Antara Tegal sama Kedinding apa hubungannya?

TEGAL
Tegalrejo, Magelang, sebuah kecamatan yang berada dikawasan Magelang. Tepatnya di desa Kombangan, terdapat sebuah pondok lusuh kuno bimbingan KH Yasin bin Idris bernama Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi'ien. Disini beberapa tahun yang lalu Kyai Achmad Burhani menjadi murid Simbah Yai Yasin.

KEDINDING
Kedinding, Surabaya, merupakan kawasan di dekat pantai yang memisahkan pulau Jawa dengan pulau Madura yang akhirnya terhubung dengan jembatan Suramadu di daerah Kenjeran. Tepatnya di Jalan Kedinding Lor 99 terdapat sebuah pondok megah yang pernah diasuh oleh KH Achmad Asrori Al Ishaqi almarhum. Disinilah Kyai Achmad Burhani mendapatkan ijazah berupa amaliyah Thoriqoh Qodiriyyah wan Naqsabandiyyah al Utsmaniyyah dan diangkat oleh Simbah Yai Asrori sebagai seorang Imam Khushusy.

Suasana malam itu benar-benar berubah ketika Kyai Achmad Burhani Asyahidi berpulang dari tanah Haromain. Pondok pesantren di Jalan Urip Sumoharjo 19 Bejen ini berubah meriah hingga larut malam. Hiruk pikuk orang-orang mulai dari yang bingung sampai orang ndak tahu wudel berjubel menanti tamu Allah di Pondok Bejen (trending name).

Sebelum di pondok, Yai Burhani mampir dulu di Masjid Darussalam Bejen untuk melepas rindu kepada rakyat yang ditinggal beliau selama 40 hari. Namun, meski Masjid Bejen (Trending name #juga) beramai-ramai menyambut tamu-tamu Allah dengan tata adat dusun, di pondok sendiri orang-orang yang mengaku jama'ahnya beliau, Yai Burhani mempersiapkan seremonial ala mereka sendiri.

Pondok Bejen begitu ramai disamping Masjid Bejen juga rame. Bedanya, yang di masjid itu orang kampung sedangkan yang di pondok itu jama'ahnya beliau Yai Burhani. Persamaannya, mereka berdua (pondok dan mesjid gan) berada di dusun Bejen.

"Asholatu was salamu 'alaika ya Rasulullah, Asholatu wa salamu 'alaika ya Habiballah, Thola'al badru 'alaina......" terdengar dengan keras dan agak kasar sedikit (efek sound cuy), pokoknya orang yang baru santai-santai atau sekedar tidur di tembok pada kaget.

Santri-santri beliau, Yai Burhani menyambut kedatangan Yai beserta Ibu Nyai dari mobil dengan lantunan "Thola'al" ala santri-santri Kedinding ketika menyambut Habib Umar al Jailaniy. Meriah meruah sholawat ini, dengan suasana yang semangat putih-putih (Al Khidmah).

Clink-clink!!!
Hilang kemana para santri?
Mereka kemudian beralih profesi seperti kebenaran berkata tentang pengabdian santri terhadap guru. This job is Laden. Bukan nama dari teroris yaa, bukan Usama bin Laden, ini lebih menggambarkan bagaimana kesuasana ketika berada di Kombangan, Tegalrejo. Minuman teh hangat manis tersaji dengan makanannya segera disiapkan di Ndalem Yai. Ditata rapi agar tidak kesampluk terus tumpah ruah di karpet.

Dan akhir cerita dari Tegal Kedinding adalah bagaimana suasana Al Khidmah berjalan beriringan dengan kebiasaan Tegalrejo. Ibarat acaranya itu Al Khidmah namun santri-santrinya loyalnya seperti anak-anak Tegalrejo. Ini adalah kenang-kenangan anak-anak Pondok Kombangan cabang Bejen :

Sunday, September 11, 2011

Suara yang menggema pelan diiringi terbenamnya mentari di ujung dunia sebelah barat. Sebuah suasana romantis kami, para pencari Tuhan, dengan sebuah alam kesibukan yang mengasyikkan. Suatu kesempatam emas kami sebagai anak kampung yang sukanya pada hal yang diajarkan orang sepuh untuk kemudian sulit mengulangi kesempatan berharga kami lagi di masa depan.

Mega yang menggulung kemerahan pekat di ufuk barat menghiasi langkah kami untuk menuju sebuah bangunan yang dibanggakan orang sepuh di dusun kami. Sebuah langgar ciut yang berisikan puluhan anak-anak yang mengeksploitasi ilmu agama di Langgar Al Mujahiddin. Semangat anak-anak masa lampau yang sulit dilakukan kami di masa kini.

Sarung berjubel kumuh masih saja benggembol di perut kami, baju lusuh setelah dipakai sekolah pun masih dipakai mengaji. Peci hitam peninggalan orang sepuh kami slalu menempel di kepala ketika maghrib berkumandang. Berbekal satu buku dan satu kitab.

Kami merasakan Semangat 45 bila Pak Kyai telah rawuh. Berderet di paling depan sendiri. Ramai pun kami ditegur oleh senior kami. Bandel kami pun sering kali membuat para senior kesal. Tapi kami bukanlah biangkerok yang membuat suasana keruh saat sholat dilaksanakan.

Sejalan waktu bergilir dan terus saja menggerus zaman.

Terdengar suara merdu dari mulut anak-anak zaman lampau ini, "Bada'tu bibismillah....." ila akhir. Berandai kami memasuki beberapa abad lampau dimana lampu belum ditemukan. Suasana romantis kami, para pencari Tuhan. Setelah mukhafadhoh dilanjutkan nadhoman setiap kelas, terdengar lagi suara keras yang menggelitik namun asyik, "Fa'ala yaf'ulu fa'lan wamaf'alan..." ila akhir.

Monday, September 5, 2011


Doa kami akan selalu ada untukmu Hadhrotusy Syaikh,


Cerita sebuah ilmu akan turun melalui sanad ilmu pada mata rantai guru. Berikut pula dengan guru kami K Achmad Burhani Asyahidi. Beliau adalah guru bagi kami, guru bagi murid-muridnya di Pondok Pesantren Hidayatul Falaah. Guru bagi kami yang bertempat tinggal di kampung Bejen baik santri kampung maupun hanya pemuda Bejen.

Dan inilah sebuah cerita tentang perjalanan bagaimana kami, para murid K Achmad Burhani meneladani perjuangannya menimba ilmu di sebuah jarak yang cukup jauh dari kampung Bejen. Pada saat ini, di tempuh pula menggunakan kendaraan bermesin masih menyisakan waktu yang cukup lama, bagaimana pula dengan sebuah dimensi yang lampau. Sebuah dimensi waktu yang mesin bermotor belum menjadi mayoritas kendaraan penguasa jalanan.

Berangkat kami di pagi ini (5/9) dengan serombongan jamaah berkendaraan 4 bus dan 2 mobil. Tujuan kami, sebuah tempat di suatu hutan. Hutan yang ditumbuhi banyak pohon bambu yang memenuhi halaman warga hingga ke kebun-kebun mereka juga tertumbuhi pohon bambu. Sebuah tempat yang mempunyai akses jalan yang bervariatif. Di antara jalan lurus mulus, terdapat jalan cor-coran yang bergelombang, jalan yang berbentuk zig-zag seperti tubuh ular, hingga jalanan seperti di daerah pegunungan.


Siapakah gerangan yang akan kami kunjungi sebagai rasa bakti kami atas rasa menjadi murid yang taat kepada gurunya?
Beliau adalah KH. Yasin bin Idris Kombangan.

Siapa gerangan beliau?
Beliau adalah guru dari K Achmad Burhani ketika dimensi tempo dulu seorang Achmad Burhani menjadi santri di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi'ien Kombangan. Simbah guru dari kami, para murid K Achmad Burhani.


Hadhrotusy Syaikh?
Hadhrotusy Syaikh merupakan gelar yang sering dipakai oleh seorang Kyai atau Syaikh (Guru) bila seorang guru itu telah menurunkan sanad ilmunya hingga cucu murid. Arti dari Hadhrotusy Syaikh sendiri adalah Maha Guru. Pusat dari sanad ilmu itu. Seperti pula tokoh pendiri Nahdlatul Ulama yakni Hadhrotusy Syaikh KH Hasyim Asy'ari Tebu Ireng atau pendiri Jama'ah Al Khidmah yakni Hadhrotusy Syaikh KH Achmad Asrori al Ishaqiy. Begitu pula apa yang terjadi pada KH Yasin bin Idris Kombangan.

Inilah tempat tujuan silaturrahim kami, Kombangan, Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah. Terdapat sebuah pondok pesantren yang bernama Hidayatul Mubtadi'ien. Sebuah pondok pesantren yang diasuh oleh Hadhrotusy Syaikh KH Yasin bin Idris.

Cerita apa lagi yang akan diposting??? Tunggu kelanjutannya yah dalam judul "Simbah Guru Kami part 2"...
aku mau istirahat dulu setelah hari ini menempuh perjalanan yang mengasyikkan.

----------------------
karena sesuatu hal, postingan ini saya lanjutkan (kang uzan).


Suatu keberuntungan bagi kami, memiliki simbah guru seperti beliau. Bukan karena allamah-nya, bukan karena sepuhnya usia, bukan pula soal hal-hal aneh yang bersangkut paut hal yang tidak bernalar. Sungguh, beliau adalah merupakan orang-orang pilihan, orang-orang yang dikasihi oleh Allah ta'ala.

Shohibus Sirriy?
Jika mengenal Shohabat Abu Bakar Shiddiq, Shohabat Umar bin Khothob, Shohabat Utsman bin Affan, Shohabat Ali bin Abi Tholib, pasti tahu definisi kata "shohabat". Seseorang muslim yang hidup atau pernah bertemu semasa Rasulullah SAW hidup. Secara kenyataan, Simbah KH Yasin bin Idris pernah bertemu hingga bercakap-cakap dengan beliau Rasulullah SAW. Subhanallah, dan itulah yang mendasari beliau KH Yasin memperoleh julukan Shohibus Sirriy.

Lha sirriy-nya?
Berhubung karena Rasulullah SAW telah wafat dan dimakamkan di Kubah Hijau Masjid Nabawi dan Simbah KH Yasin sugeng jarak usianya tidak sepadan, bagaimana bisa pertemuan itu terjadi? Pertemuan itu terjadi secara samar-samar, jadi secara sirriy. Sebagai contoh Shohabat Umar bin Khothob adalah masa hidupnya menjumpai dhohiriyah dari Nabi Muhammad SAW sehingga memperoleh julukan Shohabat. Bagaimana dengan Simbah KH Yasin? Beliau bertemu bi qolbi jadi secara samar atau sirriy.

Subhanallah, cuplikan kecil tentang manaqib Simbah KH Yasin menegaskan kita tentang sanad ilmu kita, bagi mereka yang mengaji di Pondok Pesantren Hidayatul Falaah ataupun pemuda kampung Bejen yang biasa mendengar mauidhoh hasanah dari K Achmad Burhani ilmunya pun bersumber dari sebuah kota ilmu (Nabi Muhammad SAW). Semoga barokah ilmu kita fid dunya wal akhiroh.

tentang mauidhoh hasanah Simbah KH Yasin tunggu postingan berikutnya, karena butuh narasumber juga untuk menghindari salah penafsiran.

Sunday, September 4, 2011

Nih postingan terbaru gue(bahasanya enggak banget), belum juga selesai lebaran juga khan? Nih, about night of takbir atau istilah Inggrisnya mengatakan Malam Takbiran. Dari judul postingan nyambung gak sih? Takbiran sama kartu (lebaran) itu nyambung gak?

Dimana?
Sebuah pertanyaan itu pasti sudah mengangan-angan dimanakan malam takbiran ini?

Penting nggak sih?
Terserah elu-elu yang baca, penting atau nggaknya,,, ntar bikin polling ajah... ^.^

Dimana?
Acara akbar ini diadakan oleh sebuah lembaga terbesar di kampung kami karena tidak ada organisasi pemuda kampung sehingga aku pun menamainya dengan lembaga terbesar di kampung kami. Takmir Ramadhan Masjid Darussalam Bejen adalah penyelengara acara terakbar di kecamatan Bantul, kabupaten Bejen (KH Muhtarom Idris).

Acaranya apa dong?
Acaranya tuh Pesta Kembang Api Simpang Lima. Why Simpang Lima? Karena kebetulan otak-otak (makanan) kami berfikiran perempatan Bejen itu bentuknya Segi Lima (Simpangan Lima). Di tempat ini, triliyunan kembang api disumet sebagai pemeriah malam Takbiran. Acara ini di gelar pada acara Takbir Keliling Dusun Bejen.

Dari merk kembang api Roman Candle sampe merk abal-abal pun tak kalah memeriahkan perempatan ramai itu-lalu lintas sudah di atur sama yang punya jalan (polisi)-. Kok polisinya gak nertibin yang pada nyalain kembang api? Karena polisi bukan PolPP.

Meriah sih pestanya, jalan pun macet bak arus mudik-balik digabungin jadi satu. Wuah, catatan berharga untuk diceritakan ke anak cucu. Meletusnya kembang api sama seperti suara boom rikalton dan jewe mariot. Duar!!!

Menurut kami, semua pesta itu kurang meriah karena seperti sudah sepantasnya kita merayakan hari kemenangan dengan perayaan yang demikian (sejalan). Menurut kami, memeriahkan malam takbiran dengan arus balik adalah sesuatu yang meriah yakni dengan bermain remi, siapa kalah ia harus takbir selama masa hukuman itu habis.

Namun, kisah berikutnya adalah kemurungan para peremi yang tergabung dalam wadah organisasi KOREM (Komandan Remi) yang akan gue ceritain besok lain kali. Intinya postingan ini adalah Takbiran ala KOREM.

(catatan harian ku yang galau)
             Tarian Leyek ini berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Tidak tercatatnya dalam buku-buku pengetahuan umum, membuat saya merasa tertarik untuk mengetahui secara lengkap tentang tarian ini. Berikut ini adalah seuntai cerita tentang keberadaan tarian khas Islam Yogyakarta.
Peradaban kuno tentang Kerajaan Mataram Islam tentu saja tidak bisa dipisahkan dengan asal mula tarian rakyat ini. Terutama pada perkembangan agama Islam di tanah Mentaok ini. Lain cerita tentang Syech Belabelu dan Syech Maulana Maghribi yang berada di pesisir selatan.
Tersebutlah seorang darah bangsawan Majapahit, nama kecilnya adalah Raden Trenggono, setelah belajar kepada Sunan Kalijaga namanya diubah menjadi nama seorang yang benar-benar mengetahui segala seluk beluk agama Islam yakni Panembahan Bodho. Singkat cerita Panembahan Bodho memenuhi tugas yang diembannya di daerah Tanah Perdikan Mangir.
Jauh sebelum peristiwa Ki Ageng Mangir Wanabaya tewas di tangan Panembahan Senopati. Kerajaan Islam kedua di tanah Mataram yang belum pernah mencapai kejayaannya, Kerajaan Islam Mataram Kidul.
Peradaban Islam itu mulai tumbuh dengan segarnya di tanah ini, meski penghulu tanah perdikan ini sebelum Wanabaya tidak mau masuk Islam. Terkenallah sebuah permainan musik yang diciptakan oleh Panembahan Bodho dengan salah seorang santrinya, yakni Kesenian Rodat.
Banyaknya orang yang berjoget ria ketika lantunan sholawat nabi yang diiringi oleh Kesenian Rodat membuat Panembahan Bodho merasa harus meluruskan, bahwa boleh saja senang ria dengan sholawat atau maulid tapi jangan sampai seperti kelewatan. Apa boleh buat, dengan dipandu oleh santri-santrinya Panembahan Bodho berusaha meluruskan jogetan itu menjadi sebuah tarian yang sopan namun tidak mengurangi rasa gembira di hati.
Akhir dari sebuah perjalanan peristiwa itu terciptalah Tarian Leyek untuk mengiringi Sholawat Maulid yang dimusiki oleh Kesenian Musik Rodat.
Tariannya semangat suka ria yang mencerminkan bagaimana cara menyambut Nabi Muhammad saw yang diyakini oleh masyarakat hadir ditengah-tengah perayaan Maulid itu. Alunannya seperti ombak pantai Selatan yang tajam namun indah. Properti yang digunakan berupa tipas atau kipas.
Kesenian Rodat dan Tarian Leyek ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Bisa saja hanya Kesenian Rodat, namun rasanya ada yang kurang lengkap tanpa hadirnya Leyek. Kedua kesenian ini bergembang terus di daerah Bantul, Yogyakarta seperti Kauman Wijirejo, Mangir, Ngeblak, Sabunan, dan daerah lain.

Saturday, September 3, 2011

Tersebutlah sebuah desa dengan segudang kreativitas agar mereka diliput oleh Mass Media. Dan berikut adalah hasil dari liputan koran Merap*.


Kreativitas Pemuda Dusun Bejen : Lagu Unik Penanda Sahur

Gundul-gundul pacul cul, gemblelengan, nyunggi nyunggi wakul kul gemblelengan, wakul ngglimpang segane dadi sak latar.

Itulah salah satu lirik lagu Jawa yang dilantunkan Anas Nefiyanto, Jayid dan belasan pemuda masjid diiringi tabuhan kentongan maupun bass sambil keliling menyusuri jalanan kampung Dusun Bejen Bantul, Sabtu (6/8) dinihari. Begitu nyanyian selesai langsung disusul teriakan sahuuur..sahuuur.

Saat rombongan gugah sahur ini melewati gang-gang kampung, sayup-sayup kemudian terdengar suara aktivitas di rumah para warga. Mereka yang mendengar suara gugah sahur ini kemudian beranjak menuju ke dapur untuk mempersiapkan menu sahur di rumahnya. Yang pasti dengan adanya kegiatan gugah sahur oleh para pemuda masjid ini para warga banyak yang merasa terbantu. Efek langsung dari kegiatan kreatif ini para warga kampung jadi bisa melakukan persiapan untuk sahur lebih awal. Dengan adanya tradisi gugah sahur ini harapannya memang agar para warga kampung tidak ada yang terlambat mempersiapkan menu untuk sahur.

Tradisi unik ini merupakan tradisi gugah sahur yang dilakukan para pemuda Masjid Darussalam Dusun Bejen Bantul yang sudah rutin mereka lakukan saat Bulan Ramadhan. Dengan alat musik beraneka ragam, mereka berkreasi melakukan gugah sahur dengan lantunan lagu unik yang menghibur.

Koordinator kegiatan, Mazdan kepada Merapi menyatakan, tradisi gugah sahur ini sudah berlangsung beberapa waktu. "Kegiatan ini diolah oleh takmir masjid. Tujuannya untuk membangunkan warga sahur khususnya saat Bulan Ramadhan," papar Mazdan.

Dalam setiap kali keliling kampung, ada 12 sampai 16 orang pemuda yang turut serta. Saat keliling untuk melakukan gugah sahur, mereka sudah membawa peralatan musik masing-masing. Tugas mereka juga beda-beda. Ada yang khusus penabuh Bass, ada juga yang menjadi vocal. Khusus yang kebagian tugas vocal, mereka berada di barisan paling depan sambil membawa megaphone.

Menurut penuturan Mazdan, kegiatan gugah sahur ini pertama kalinya dilakukan di rumah warga. Karena kegiatan ini sifatnya umum kemudian diakomodir oleh takmir hingga menjadi format seperti sekarang. "Dalam setiap malamnya, kami mulai keliling pukul 02.00," jelas Mazdan. (Shf)-b