Showing posts with label Santri. Show all posts
Showing posts with label Santri. Show all posts

Saturday, July 13, 2013


Ternyata tuntutan untuk menulis sejarah ini harus berjalan lagi ditengah minimnya referensi yang mengupasnya lebih dalam. Sebelumnya, sudah pernah ditampilkan artikel mirip seperti ini dengan judul Tari Leyek. Tapi itu jauh dari referensi yang jelas sumbernya. Meski awur-awuranjalan opini saya tetapi sebuah tuntutan untuk menulis lagi menjadikan saya untuk belajar lagi lebih dalam. Prolog.

Di mata masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya di Kabupaten Bantul, terdapat suatu kesenian yang merupakan asli dari karya masyarakat Bantul. Perpaduan antara budaya Jawa dengan budaya Islam meleburnya menjadi sebuah sajian langka di zaman sekarang. Terlebih, kesenian ini hanya terkenal seperti di daerah sekitar Makam Sewu, sebagian Bantul Kota, dan daerah Jejeran.

Tidak terlepas dari tokoh sejarah yang bermain di belakangnya. Seperti Ki Ageng Mangir, Panembahan Bodho dan sepertinya ada juga tokoh Ki Ageng Jejer. Mereka hidup se-zaman. Masa akhir Kasultanan Demak, masa Kasultanan Pajang dan awal Kasultanan Mataram. Dan jangan lupakan peran Sunan Kalijaga dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.

Jaringan Jalasutera, sebuah jaringan para wali dari alas Mentaok hingga Demak Bintoro. Melalui jaringan inilah, Sunan Kalijaga melebarkan sayap dakwahnya melalui santri-santrinya. Salah duanya adalah, Panembahan Bodho dan Ki Ageng Jejer. Panembahan Bodho bertugas di Bantul sebelah Barat sedangkan Ki Ageng Jejer bertugas di Bantul sebelah Timur.

Hubungan inilah yang memungkinkan, kesenian Rodat seperti berpusat di tempat keduanya bersemayam. Panembahan Bodho yang berdomisili di daerah Wijirejo dan Ki Ageng Jejer yang berdomisili di Jejeran. Tidak hanya kedua daerah tersebut yang berkembang kesenian Rodat. Santri-santri dan ahli bait kedua tokoh tersebut pun mengembangkan kesenian ini di daerahnya.

Salah satunya adalah Bejen. Sebuah daerah di arah tenggara dari pusat kota Bantul. Sebuah kademangan besar di masa lalu. Di sini ditemukan salasilah keturunan dari Panembahan Bodho dan juga ada sebagian santri dari Ki Ageng Jejer. Dan ditemukan pula sisa-sisa peninggalannya berupa kesenian Rodat.

Rodat, kesenian tabuhan rebana khas jawa dengan suguhan menari yang elok. Versi ini mengartikan bahwa Rodat adalah seni tabuhan rebana sedangkan suguhan tarian tersebut bernama Tari Leyek. Keduanya memang tidak dapat dipisahkan, sehingga cara pengartian yang berbeda adalah hal yang wajar. Dan kesenian inilah yang merupakan hasil dari olah keterampilan masyarakat Bantul sendiri.

Friday, November 25, 2011

Mengapa judulnya "Tegal Kedinding"?
Adakah yang bertanya sedemikian rupa seperti pertanyaan saya? Jawabnya butuh panjang bulet deh kalo nerangin ini judul aneh banget. Antara Tegal sama Kedinding apa hubungannya?

TEGAL
Tegalrejo, Magelang, sebuah kecamatan yang berada dikawasan Magelang. Tepatnya di desa Kombangan, terdapat sebuah pondok lusuh kuno bimbingan KH Yasin bin Idris bernama Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi'ien. Disini beberapa tahun yang lalu Kyai Achmad Burhani menjadi murid Simbah Yai Yasin.

KEDINDING
Kedinding, Surabaya, merupakan kawasan di dekat pantai yang memisahkan pulau Jawa dengan pulau Madura yang akhirnya terhubung dengan jembatan Suramadu di daerah Kenjeran. Tepatnya di Jalan Kedinding Lor 99 terdapat sebuah pondok megah yang pernah diasuh oleh KH Achmad Asrori Al Ishaqi almarhum. Disinilah Kyai Achmad Burhani mendapatkan ijazah berupa amaliyah Thoriqoh Qodiriyyah wan Naqsabandiyyah al Utsmaniyyah dan diangkat oleh Simbah Yai Asrori sebagai seorang Imam Khushusy.

Suasana malam itu benar-benar berubah ketika Kyai Achmad Burhani Asyahidi berpulang dari tanah Haromain. Pondok pesantren di Jalan Urip Sumoharjo 19 Bejen ini berubah meriah hingga larut malam. Hiruk pikuk orang-orang mulai dari yang bingung sampai orang ndak tahu wudel berjubel menanti tamu Allah di Pondok Bejen (trending name).

Sebelum di pondok, Yai Burhani mampir dulu di Masjid Darussalam Bejen untuk melepas rindu kepada rakyat yang ditinggal beliau selama 40 hari. Namun, meski Masjid Bejen (Trending name #juga) beramai-ramai menyambut tamu-tamu Allah dengan tata adat dusun, di pondok sendiri orang-orang yang mengaku jama'ahnya beliau, Yai Burhani mempersiapkan seremonial ala mereka sendiri.

Pondok Bejen begitu ramai disamping Masjid Bejen juga rame. Bedanya, yang di masjid itu orang kampung sedangkan yang di pondok itu jama'ahnya beliau Yai Burhani. Persamaannya, mereka berdua (pondok dan mesjid gan) berada di dusun Bejen.

"Asholatu was salamu 'alaika ya Rasulullah, Asholatu wa salamu 'alaika ya Habiballah, Thola'al badru 'alaina......" terdengar dengan keras dan agak kasar sedikit (efek sound cuy), pokoknya orang yang baru santai-santai atau sekedar tidur di tembok pada kaget.

Santri-santri beliau, Yai Burhani menyambut kedatangan Yai beserta Ibu Nyai dari mobil dengan lantunan "Thola'al" ala santri-santri Kedinding ketika menyambut Habib Umar al Jailaniy. Meriah meruah sholawat ini, dengan suasana yang semangat putih-putih (Al Khidmah).

Clink-clink!!!
Hilang kemana para santri?
Mereka kemudian beralih profesi seperti kebenaran berkata tentang pengabdian santri terhadap guru. This job is Laden. Bukan nama dari teroris yaa, bukan Usama bin Laden, ini lebih menggambarkan bagaimana kesuasana ketika berada di Kombangan, Tegalrejo. Minuman teh hangat manis tersaji dengan makanannya segera disiapkan di Ndalem Yai. Ditata rapi agar tidak kesampluk terus tumpah ruah di karpet.

Dan akhir cerita dari Tegal Kedinding adalah bagaimana suasana Al Khidmah berjalan beriringan dengan kebiasaan Tegalrejo. Ibarat acaranya itu Al Khidmah namun santri-santrinya loyalnya seperti anak-anak Tegalrejo. Ini adalah kenang-kenangan anak-anak Pondok Kombangan cabang Bejen :

Friday, October 28, 2011


Sebuah percakapan panjang akhirnya memberikan aku sebuah ilmu, memberikan tambahan wawasan tentang benar adanya yang bernama Bid'ah Wajib. Beberapa kalangan Islam yang berpikir modern, beberapa puluhan tahun yang lalu mempunyai misi-visi khusus untuk membasmi hal-hal yang berkaitan dengan Bid'ah dan teman-temannya. Tidak aneh bila kemudian, muncul beberapa kesalahpahaman antara golongan Islam satu dengan golongan lainnya karena sebuah adu dompa serta adu dalil.

Nahwu Shorof merupakan hal yang baru dalam wawasan khasanah Islam. Pada zaman Nabi Muhammad SAW belum ada ilmu macam-macam bahkan Nahwu Shorof yang istilahnya penting untuk menjaga kemurnian Al Qur'an. Ini merupakan hal yang baru dalam Islam tentunya juga berkaitan dengan masalah ibadah karena membaca Al Qur'an merupakan sebuah ibadah amaliah bagi muslim. Bila, pembacaan Al Qur'an salah atau ada yang mengganti titah-titah mulia maka tentu kita tidak akan mengerti permasalahan itu.

Sebelumnya saya waton namai dengan Adhiya'ud Daaroin yang menurut saya Cahaya Dua Rumah. Ternyata setelah melalui pembelajaran singkat, saya berada dipihak yang salah. Secara Nahwu Shorof, kata yang saya keluarkan akan mengandung makna lain. Tidak salah dalam pemilihan kata-katanya namun saya salah mengucapkannya. Dari sinilah saya mulai mengerti hal yang sebenarnya salah dan harus dibetulkan.

DHIYA'UD DAAROIN
artinya Cahaya Dua Rumah. Dua Rumah yang dimaksud adalah rumah dunia dan rumah akhirat.

Dan sekarang saya suka Dhiya'ud Daaroin sebagai paraban maupun siap untuk direlease sebagai majelis taklim dan sholawat.

Thursday, October 27, 2011

Saya cuma mau ngucapin tentang kehadiran bulan "Besar" dalam kalender Islam, hajatan terbesar umat Islam pun dilaksanakan pada bulan ini, yakni Idul Qurban dan Ibadah Haji.

HAPPY
DZULHIJJAH 1432 H MUBARAK !
SEMOGA YANG SEDANG MENJALANKAN IBADAH HAJI, IBADAHNYA DITERIMA DI SISI ALLAH SWT SEBAGAI AMALAN YANG IKHLAS DAN DAPAT MENJADIKAN ORANG-ORANG MUKMIN DI TANAH HARAM IBADAHNYA MENJADI HAJI YANG MABRUR! PULANG MEMBAWA BERKAH DAN OLEH-OLEH! AMIN.

BAGI YANG TANGGAL 1 SAMPAI TANGGAL 9 MAU MENJALANKAN IBADAH PUASA SUNAH SEMOGA PUASANYA YANG IKHLAS DAN DIKUATKAN DARI SEGALA BENTUK NAFSU SERTA DILINDUNGI RASA LAPAR DAN DAHAGA DARI SENGATAN PANAS DAN TERIKNYA MATAHARI! AMIN!

Sunday, September 11, 2011

Suara yang menggema pelan diiringi terbenamnya mentari di ujung dunia sebelah barat. Sebuah suasana romantis kami, para pencari Tuhan, dengan sebuah alam kesibukan yang mengasyikkan. Suatu kesempatam emas kami sebagai anak kampung yang sukanya pada hal yang diajarkan orang sepuh untuk kemudian sulit mengulangi kesempatan berharga kami lagi di masa depan.

Mega yang menggulung kemerahan pekat di ufuk barat menghiasi langkah kami untuk menuju sebuah bangunan yang dibanggakan orang sepuh di dusun kami. Sebuah langgar ciut yang berisikan puluhan anak-anak yang mengeksploitasi ilmu agama di Langgar Al Mujahiddin. Semangat anak-anak masa lampau yang sulit dilakukan kami di masa kini.

Sarung berjubel kumuh masih saja benggembol di perut kami, baju lusuh setelah dipakai sekolah pun masih dipakai mengaji. Peci hitam peninggalan orang sepuh kami slalu menempel di kepala ketika maghrib berkumandang. Berbekal satu buku dan satu kitab.

Kami merasakan Semangat 45 bila Pak Kyai telah rawuh. Berderet di paling depan sendiri. Ramai pun kami ditegur oleh senior kami. Bandel kami pun sering kali membuat para senior kesal. Tapi kami bukanlah biangkerok yang membuat suasana keruh saat sholat dilaksanakan.

Sejalan waktu bergilir dan terus saja menggerus zaman.

Terdengar suara merdu dari mulut anak-anak zaman lampau ini, "Bada'tu bibismillah....." ila akhir. Berandai kami memasuki beberapa abad lampau dimana lampu belum ditemukan. Suasana romantis kami, para pencari Tuhan. Setelah mukhafadhoh dilanjutkan nadhoman setiap kelas, terdengar lagi suara keras yang menggelitik namun asyik, "Fa'ala yaf'ulu fa'lan wamaf'alan..." ila akhir.
Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali.

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.

Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.

’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.

’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”

Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.

Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. ””Aku?”, tanyanya tak yakin.”Ya. Engkau wahai saudaraku!””Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?””Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?””Entahlah..””Apa maksudmu?””Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!””Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.

’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ”‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”

Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4).

sumber : http://lp-9.blogspot.com/2010/12/kisah-cinta-sayyidina-ali-dgn-sayyidah.html

Tuesday, September 6, 2011


Judul postingan yang aneh. Seperti yang diungkapkan oleh seorang Kapita Pattimura, "Mati Satu Tumbuh Seribu." Beberapa kali kata-kata ini terucap dalam pelajaran sejarah di sekolah-sekolah untuk mengenalkan perjuangan bangsa Indonesia mengusir penjajah. Berulang kali pula dan tidak pernah bosan, kata-kata ini seperti transportasi arus mudik-balik yang berlalu lalang di gendang telinga kita.

Beberapa tokoh sejarah menerangkan, gugur satu pahlawan untuk mempertahankan tanah air Indonesia ini maka jiwa-jiwa kepahlawanan itu akan tumbuh di dalam jiwa seribu pemuda Indonesia. Tapi lihatlah kenyataan dari nilai filosofis yang terkandung itu. Anggota DPR-MPR pun tak kan pernah tahu dan mungkin tidak akan pernah tau tentang apa itu "Mati Satu Tumbuh Seribu". Mereka anggota legislatif hanya akan tertarik pada kata terakhir "Seribu" karena uang 1 Triliyun tidak akan menjadi 1 Triliyun bila tidak ada uang "Seribu"

Siang itu (5/9) hanya tengah bersandar di bawah payung atap genting di atas bukit yang tinggi. Sejalan seperti kisah yang lalu "Simbah Guru Kami". Tujuan kami kali ini adalah sebuah makam di daerah Muntilan. Sebuah daerah di luar wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta yang menjadi daerah perdikan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Dimana?
Di Makam Gunung Pring, Muntilan, Jawa Tengah, Indonesia.

Hawa sejuk pegunungan membuat kami tidak pernah lelah menapaki punden berundak yang menuju ke kompleks makam di atas bukit. Jika mau dihitung berapakah jumlah anak tangga menuju atas, silahkan saja, tapi gue males buat ngitungnya. Mendingan foto-foto anak tangga daripada ngitungnya.


Setelah selesai melepas penat di kompleks makam, kami lanjutkan untuk sholat Dzuhur dikarenakan sudah waktunya pula kami harus melakukan kewajiban itu. Dikarenakan tempat wudhu puterinya rusak dan mungkin belum sempat didandani lagi oleh penunggu maka (juru kunci maksudnya). Dan, WOW!!! Kami putera dan puteri harus wudlu di satu tempat yang sama dan jalannya sempit. Alhasil, banya para wanita tua pada mbacot sesuka hatinya. Astaghfirullah.

Seribu masjid di jalan raya membuat kami tidak menjama' maupun mengqodho' sholat Dzuhur. Lagian tempat kami tidak lebih dari 60 dhiro (bener gak) yang salah satu menjadi syarat diqodho' atau dijama'. Sholat Dzuhur selesai, kami lanjutkan apa tujuan sebenarnya ke Gunung Pring. Yups, pembacaan kalimah thiyyibah atau bahasa kerennya Tahlil.

Mereka yang berada di bawah tanah, adalah orang-orang pilihan dari Allah ta'ala sebagai khalifah di masa lalu. Raden Santri adalah cikal bakal dari makam di atas bukit ini. Beliau adalah putera dari Ki Ageng Pemanahan di Mataram. Di sini pula leluhur dari Hadhrotusy Syaikh KH Yasin bin Idris Kombangan dimakamkan. Siapa? Yaitu tadi, Raden Santri. Semoga rahmad Allah selalu ada kepada mereka. Amin allahumma amin.

Meninggal satu ulama, tumbuh jiwa-jiwa ulama di seribu santri. Dan kemudian muncul pula pengganti mereka yang sudah meninggal, para kyai-kyai yang silih berganti. Mereka tidak akan bereinkarnasi menjadi seseorang lagi, mereka akan bereinkarnasi ilmunya. Mereka adalah salah satu garis dari persanadan ilmu di pulau Jawa.

Dan pada akhir doa Tahlil, kami mendengar berita kewafatan KH Achmad Shohibul Wafa Tajul Arifin atau yang dikenal sebagai Abah Anom Suryalaya. Secara kebetulan gue punya perasaan aneh untuk buka handphone gue yang baru saja online facebook, setelah gue refresh, eh, ada berita Abah Anom wafat. Tidak ketinggalan pula untuk kirim Al Fatihah kepada Abah Anom.

Bila Allah ta'ala berkenan, akan ada seribu jiwa santri lagi yang akan meneruskan perjuangan KH Achmad Shohibul Wafa Tajul Arifin. Dan akhir postingan gue ini, akan gue akhiri dengan :

SELAMAT JALAN ULAMA KAMI, ULAMA PARA SANTRI AHLUSSUNAH WAL JAMAAH, MURSYIDUTH THORIQOH QODIRIYYAH WAN NAQSABANDIYYAH ALMAGHFURLLAH HADHROTUSY SYAIKH KH ACHMAD SHOHIBUL WAFA TAJUL ARIFIN RA.

Monday, September 5, 2011


Doa kami akan selalu ada untukmu Hadhrotusy Syaikh,


Cerita sebuah ilmu akan turun melalui sanad ilmu pada mata rantai guru. Berikut pula dengan guru kami K Achmad Burhani Asyahidi. Beliau adalah guru bagi kami, guru bagi murid-muridnya di Pondok Pesantren Hidayatul Falaah. Guru bagi kami yang bertempat tinggal di kampung Bejen baik santri kampung maupun hanya pemuda Bejen.

Dan inilah sebuah cerita tentang perjalanan bagaimana kami, para murid K Achmad Burhani meneladani perjuangannya menimba ilmu di sebuah jarak yang cukup jauh dari kampung Bejen. Pada saat ini, di tempuh pula menggunakan kendaraan bermesin masih menyisakan waktu yang cukup lama, bagaimana pula dengan sebuah dimensi yang lampau. Sebuah dimensi waktu yang mesin bermotor belum menjadi mayoritas kendaraan penguasa jalanan.

Berangkat kami di pagi ini (5/9) dengan serombongan jamaah berkendaraan 4 bus dan 2 mobil. Tujuan kami, sebuah tempat di suatu hutan. Hutan yang ditumbuhi banyak pohon bambu yang memenuhi halaman warga hingga ke kebun-kebun mereka juga tertumbuhi pohon bambu. Sebuah tempat yang mempunyai akses jalan yang bervariatif. Di antara jalan lurus mulus, terdapat jalan cor-coran yang bergelombang, jalan yang berbentuk zig-zag seperti tubuh ular, hingga jalanan seperti di daerah pegunungan.


Siapakah gerangan yang akan kami kunjungi sebagai rasa bakti kami atas rasa menjadi murid yang taat kepada gurunya?
Beliau adalah KH. Yasin bin Idris Kombangan.

Siapa gerangan beliau?
Beliau adalah guru dari K Achmad Burhani ketika dimensi tempo dulu seorang Achmad Burhani menjadi santri di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi'ien Kombangan. Simbah guru dari kami, para murid K Achmad Burhani.


Hadhrotusy Syaikh?
Hadhrotusy Syaikh merupakan gelar yang sering dipakai oleh seorang Kyai atau Syaikh (Guru) bila seorang guru itu telah menurunkan sanad ilmunya hingga cucu murid. Arti dari Hadhrotusy Syaikh sendiri adalah Maha Guru. Pusat dari sanad ilmu itu. Seperti pula tokoh pendiri Nahdlatul Ulama yakni Hadhrotusy Syaikh KH Hasyim Asy'ari Tebu Ireng atau pendiri Jama'ah Al Khidmah yakni Hadhrotusy Syaikh KH Achmad Asrori al Ishaqiy. Begitu pula apa yang terjadi pada KH Yasin bin Idris Kombangan.

Inilah tempat tujuan silaturrahim kami, Kombangan, Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah. Terdapat sebuah pondok pesantren yang bernama Hidayatul Mubtadi'ien. Sebuah pondok pesantren yang diasuh oleh Hadhrotusy Syaikh KH Yasin bin Idris.

Cerita apa lagi yang akan diposting??? Tunggu kelanjutannya yah dalam judul "Simbah Guru Kami part 2"...
aku mau istirahat dulu setelah hari ini menempuh perjalanan yang mengasyikkan.

----------------------
karena sesuatu hal, postingan ini saya lanjutkan (kang uzan).


Suatu keberuntungan bagi kami, memiliki simbah guru seperti beliau. Bukan karena allamah-nya, bukan karena sepuhnya usia, bukan pula soal hal-hal aneh yang bersangkut paut hal yang tidak bernalar. Sungguh, beliau adalah merupakan orang-orang pilihan, orang-orang yang dikasihi oleh Allah ta'ala.

Shohibus Sirriy?
Jika mengenal Shohabat Abu Bakar Shiddiq, Shohabat Umar bin Khothob, Shohabat Utsman bin Affan, Shohabat Ali bin Abi Tholib, pasti tahu definisi kata "shohabat". Seseorang muslim yang hidup atau pernah bertemu semasa Rasulullah SAW hidup. Secara kenyataan, Simbah KH Yasin bin Idris pernah bertemu hingga bercakap-cakap dengan beliau Rasulullah SAW. Subhanallah, dan itulah yang mendasari beliau KH Yasin memperoleh julukan Shohibus Sirriy.

Lha sirriy-nya?
Berhubung karena Rasulullah SAW telah wafat dan dimakamkan di Kubah Hijau Masjid Nabawi dan Simbah KH Yasin sugeng jarak usianya tidak sepadan, bagaimana bisa pertemuan itu terjadi? Pertemuan itu terjadi secara samar-samar, jadi secara sirriy. Sebagai contoh Shohabat Umar bin Khothob adalah masa hidupnya menjumpai dhohiriyah dari Nabi Muhammad SAW sehingga memperoleh julukan Shohabat. Bagaimana dengan Simbah KH Yasin? Beliau bertemu bi qolbi jadi secara samar atau sirriy.

Subhanallah, cuplikan kecil tentang manaqib Simbah KH Yasin menegaskan kita tentang sanad ilmu kita, bagi mereka yang mengaji di Pondok Pesantren Hidayatul Falaah ataupun pemuda kampung Bejen yang biasa mendengar mauidhoh hasanah dari K Achmad Burhani ilmunya pun bersumber dari sebuah kota ilmu (Nabi Muhammad SAW). Semoga barokah ilmu kita fid dunya wal akhiroh.

tentang mauidhoh hasanah Simbah KH Yasin tunggu postingan berikutnya, karena butuh narasumber juga untuk menghindari salah penafsiran.