Showing posts with label Musik. Show all posts
Showing posts with label Musik. Show all posts

Saturday, July 13, 2013


Ternyata tuntutan untuk menulis sejarah ini harus berjalan lagi ditengah minimnya referensi yang mengupasnya lebih dalam. Sebelumnya, sudah pernah ditampilkan artikel mirip seperti ini dengan judul Tari Leyek. Tapi itu jauh dari referensi yang jelas sumbernya. Meski awur-awuranjalan opini saya tetapi sebuah tuntutan untuk menulis lagi menjadikan saya untuk belajar lagi lebih dalam. Prolog.

Di mata masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya di Kabupaten Bantul, terdapat suatu kesenian yang merupakan asli dari karya masyarakat Bantul. Perpaduan antara budaya Jawa dengan budaya Islam meleburnya menjadi sebuah sajian langka di zaman sekarang. Terlebih, kesenian ini hanya terkenal seperti di daerah sekitar Makam Sewu, sebagian Bantul Kota, dan daerah Jejeran.

Tidak terlepas dari tokoh sejarah yang bermain di belakangnya. Seperti Ki Ageng Mangir, Panembahan Bodho dan sepertinya ada juga tokoh Ki Ageng Jejer. Mereka hidup se-zaman. Masa akhir Kasultanan Demak, masa Kasultanan Pajang dan awal Kasultanan Mataram. Dan jangan lupakan peran Sunan Kalijaga dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.

Jaringan Jalasutera, sebuah jaringan para wali dari alas Mentaok hingga Demak Bintoro. Melalui jaringan inilah, Sunan Kalijaga melebarkan sayap dakwahnya melalui santri-santrinya. Salah duanya adalah, Panembahan Bodho dan Ki Ageng Jejer. Panembahan Bodho bertugas di Bantul sebelah Barat sedangkan Ki Ageng Jejer bertugas di Bantul sebelah Timur.

Hubungan inilah yang memungkinkan, kesenian Rodat seperti berpusat di tempat keduanya bersemayam. Panembahan Bodho yang berdomisili di daerah Wijirejo dan Ki Ageng Jejer yang berdomisili di Jejeran. Tidak hanya kedua daerah tersebut yang berkembang kesenian Rodat. Santri-santri dan ahli bait kedua tokoh tersebut pun mengembangkan kesenian ini di daerahnya.

Salah satunya adalah Bejen. Sebuah daerah di arah tenggara dari pusat kota Bantul. Sebuah kademangan besar di masa lalu. Di sini ditemukan salasilah keturunan dari Panembahan Bodho dan juga ada sebagian santri dari Ki Ageng Jejer. Dan ditemukan pula sisa-sisa peninggalannya berupa kesenian Rodat.

Rodat, kesenian tabuhan rebana khas jawa dengan suguhan menari yang elok. Versi ini mengartikan bahwa Rodat adalah seni tabuhan rebana sedangkan suguhan tarian tersebut bernama Tari Leyek. Keduanya memang tidak dapat dipisahkan, sehingga cara pengartian yang berbeda adalah hal yang wajar. Dan kesenian inilah yang merupakan hasil dari olah keterampilan masyarakat Bantul sendiri.
Puluhan reaja masjid Bejen keliling kampung membangunkan orang sahur. (Foto : Yusron Mustaqim)
BANTUL (KRjogja.com) - Di pagi yang sunyi terdengar musik klotekan berusaha memecah keheningan malam. Meski hanya menggunakan alat musik kentongan, bas dari paralon bekas tetapi menghasilkan suara merdu. Secara kompak puluhan pemuda melantunkan lagu-lagu salawat, lagu nasional maupun lagu pop ngetren saat ini.

Suasana ini selalu terlihat setiap pagi dini hari selama bulan Ramadan di Dusun Bejen Bantul. Sejak pukul 02.00 WIB puluhan pemuda yang tergabung dalam remaja masjid Darussalam berkumpul bersama di depan masjid. Dengan membawa alat musik seadanya, bahkan ada bekas besi gergaji mesin pun digunakan sebagai alat musik.

“Ini spontanitas kami lakukan saat bulan Ramadan tiba. Setiap pagi menjelang sahur kami berkumpul bersama untuk gugah-gugah(membangunkan ,red) masyarakat untuk sahur. Dengan alat musik seadanya kita keliling kampung bersama,” kata Jazid Maskul (23), seksi takjilan dan penjaga gudang remaja masjid Darussalam saat ditemui KRjogja.com di sela-sela keliling kampung, Jumat (12/07/2013).

Disebutkan, kegiatan tersebut menjadi salah satu even rutin yang telah digelar sejak 5 tahun terakhir ini. Kehadiran musik klotekan ini memang selalu ditunggu-tunggu masyarakat luas. Karena banyak warga menggantungkan rombongan pemuda ini untik menyiapkan santap sahur. (Usa)

http://krjogja.com/read/180054/cara-remaja-masjid-bejen-bangunkan-sahur.kr

Sunday, September 4, 2011

             Tarian Leyek ini berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Tidak tercatatnya dalam buku-buku pengetahuan umum, membuat saya merasa tertarik untuk mengetahui secara lengkap tentang tarian ini. Berikut ini adalah seuntai cerita tentang keberadaan tarian khas Islam Yogyakarta.
Peradaban kuno tentang Kerajaan Mataram Islam tentu saja tidak bisa dipisahkan dengan asal mula tarian rakyat ini. Terutama pada perkembangan agama Islam di tanah Mentaok ini. Lain cerita tentang Syech Belabelu dan Syech Maulana Maghribi yang berada di pesisir selatan.
Tersebutlah seorang darah bangsawan Majapahit, nama kecilnya adalah Raden Trenggono, setelah belajar kepada Sunan Kalijaga namanya diubah menjadi nama seorang yang benar-benar mengetahui segala seluk beluk agama Islam yakni Panembahan Bodho. Singkat cerita Panembahan Bodho memenuhi tugas yang diembannya di daerah Tanah Perdikan Mangir.
Jauh sebelum peristiwa Ki Ageng Mangir Wanabaya tewas di tangan Panembahan Senopati. Kerajaan Islam kedua di tanah Mataram yang belum pernah mencapai kejayaannya, Kerajaan Islam Mataram Kidul.
Peradaban Islam itu mulai tumbuh dengan segarnya di tanah ini, meski penghulu tanah perdikan ini sebelum Wanabaya tidak mau masuk Islam. Terkenallah sebuah permainan musik yang diciptakan oleh Panembahan Bodho dengan salah seorang santrinya, yakni Kesenian Rodat.
Banyaknya orang yang berjoget ria ketika lantunan sholawat nabi yang diiringi oleh Kesenian Rodat membuat Panembahan Bodho merasa harus meluruskan, bahwa boleh saja senang ria dengan sholawat atau maulid tapi jangan sampai seperti kelewatan. Apa boleh buat, dengan dipandu oleh santri-santrinya Panembahan Bodho berusaha meluruskan jogetan itu menjadi sebuah tarian yang sopan namun tidak mengurangi rasa gembira di hati.
Akhir dari sebuah perjalanan peristiwa itu terciptalah Tarian Leyek untuk mengiringi Sholawat Maulid yang dimusiki oleh Kesenian Musik Rodat.
Tariannya semangat suka ria yang mencerminkan bagaimana cara menyambut Nabi Muhammad saw yang diyakini oleh masyarakat hadir ditengah-tengah perayaan Maulid itu. Alunannya seperti ombak pantai Selatan yang tajam namun indah. Properti yang digunakan berupa tipas atau kipas.
Kesenian Rodat dan Tarian Leyek ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Bisa saja hanya Kesenian Rodat, namun rasanya ada yang kurang lengkap tanpa hadirnya Leyek. Kedua kesenian ini bergembang terus di daerah Bantul, Yogyakarta seperti Kauman Wijirejo, Mangir, Ngeblak, Sabunan, dan daerah lain.

Saturday, September 3, 2011

Tersebutlah sebuah desa dengan segudang kreativitas agar mereka diliput oleh Mass Media. Dan berikut adalah hasil dari liputan koran Merap*.


Kreativitas Pemuda Dusun Bejen : Lagu Unik Penanda Sahur

Gundul-gundul pacul cul, gemblelengan, nyunggi nyunggi wakul kul gemblelengan, wakul ngglimpang segane dadi sak latar.

Itulah salah satu lirik lagu Jawa yang dilantunkan Anas Nefiyanto, Jayid dan belasan pemuda masjid diiringi tabuhan kentongan maupun bass sambil keliling menyusuri jalanan kampung Dusun Bejen Bantul, Sabtu (6/8) dinihari. Begitu nyanyian selesai langsung disusul teriakan sahuuur..sahuuur.

Saat rombongan gugah sahur ini melewati gang-gang kampung, sayup-sayup kemudian terdengar suara aktivitas di rumah para warga. Mereka yang mendengar suara gugah sahur ini kemudian beranjak menuju ke dapur untuk mempersiapkan menu sahur di rumahnya. Yang pasti dengan adanya kegiatan gugah sahur oleh para pemuda masjid ini para warga banyak yang merasa terbantu. Efek langsung dari kegiatan kreatif ini para warga kampung jadi bisa melakukan persiapan untuk sahur lebih awal. Dengan adanya tradisi gugah sahur ini harapannya memang agar para warga kampung tidak ada yang terlambat mempersiapkan menu untuk sahur.

Tradisi unik ini merupakan tradisi gugah sahur yang dilakukan para pemuda Masjid Darussalam Dusun Bejen Bantul yang sudah rutin mereka lakukan saat Bulan Ramadhan. Dengan alat musik beraneka ragam, mereka berkreasi melakukan gugah sahur dengan lantunan lagu unik yang menghibur.

Koordinator kegiatan, Mazdan kepada Merapi menyatakan, tradisi gugah sahur ini sudah berlangsung beberapa waktu. "Kegiatan ini diolah oleh takmir masjid. Tujuannya untuk membangunkan warga sahur khususnya saat Bulan Ramadhan," papar Mazdan.

Dalam setiap kali keliling kampung, ada 12 sampai 16 orang pemuda yang turut serta. Saat keliling untuk melakukan gugah sahur, mereka sudah membawa peralatan musik masing-masing. Tugas mereka juga beda-beda. Ada yang khusus penabuh Bass, ada juga yang menjadi vocal. Khusus yang kebagian tugas vocal, mereka berada di barisan paling depan sambil membawa megaphone.

Menurut penuturan Mazdan, kegiatan gugah sahur ini pertama kalinya dilakukan di rumah warga. Karena kegiatan ini sifatnya umum kemudian diakomodir oleh takmir hingga menjadi format seperti sekarang. "Dalam setiap malamnya, kami mulai keliling pukul 02.00," jelas Mazdan. (Shf)-b