Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Tuesday, October 1, 2013

Kejadian yang sungguh mengejutkan di pagi hari pada tanggal 1 Oktober 1965. Beberapa perwira tinggi TNI AD lenyap ditelan lubang buaya. Tokoh yang sedemikian dekatnya dengan Presiden Soekarno saat itu ditumpas oleh segelintir orang yang haus akan  sebuah kekuasaan.

Prolog kesejarahan kerajaan Singhasari tidak akan bisa lenyap dibenak masyarakat Indonesia. Sebagaimana berpengaruhnya keris yang dibuat oleh Empu Gandring yang menewaskan sang pembuatnya sendiri. Begitu pula dengan perjalanan politik kerajaan Singhasari yang diwarnai pertumpahan darah antar keturunan Ken Arok.

2013.

30 September 2013 terdengar suara yang keras dari toa yang dipasang di sekitar rumah Kepala Dusun Bejen. Intinya, Pak Dukuh memerintahkan untuk memasang Sang Saka Merah Putih setengah tiang. Dan terpasanglah dengan gagahnya di pinggir-pinggir rumah dengan keadaan yang hanya setengah tiang. Maklumlah, masyarakat yang tertib akan perintah dukuhnya.

1 Oktober 2013, berjalan satu hari dari hari sebelumnya. Hari ini, Sang Merah Putih terombang-ambing di udara dengan keadaan yang berbeda dari hari yang lalu. Hari ini, dengan gagahnya bendera yang sakral itu terpasang penuh di ujung tiang. Oh, ini hari Kesaktian Pancasila.

Sesakti apakah Pancasila hingga mempunyai hari khusus di 1 Oktober? Apakah tidak salah tanggal itu? Ah, ini cuma akal-akalan rezim Soeharto saja. 

Saturday, July 13, 2013


Ternyata tuntutan untuk menulis sejarah ini harus berjalan lagi ditengah minimnya referensi yang mengupasnya lebih dalam. Sebelumnya, sudah pernah ditampilkan artikel mirip seperti ini dengan judul Tari Leyek. Tapi itu jauh dari referensi yang jelas sumbernya. Meski awur-awuranjalan opini saya tetapi sebuah tuntutan untuk menulis lagi menjadikan saya untuk belajar lagi lebih dalam. Prolog.

Di mata masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya di Kabupaten Bantul, terdapat suatu kesenian yang merupakan asli dari karya masyarakat Bantul. Perpaduan antara budaya Jawa dengan budaya Islam meleburnya menjadi sebuah sajian langka di zaman sekarang. Terlebih, kesenian ini hanya terkenal seperti di daerah sekitar Makam Sewu, sebagian Bantul Kota, dan daerah Jejeran.

Tidak terlepas dari tokoh sejarah yang bermain di belakangnya. Seperti Ki Ageng Mangir, Panembahan Bodho dan sepertinya ada juga tokoh Ki Ageng Jejer. Mereka hidup se-zaman. Masa akhir Kasultanan Demak, masa Kasultanan Pajang dan awal Kasultanan Mataram. Dan jangan lupakan peran Sunan Kalijaga dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.

Jaringan Jalasutera, sebuah jaringan para wali dari alas Mentaok hingga Demak Bintoro. Melalui jaringan inilah, Sunan Kalijaga melebarkan sayap dakwahnya melalui santri-santrinya. Salah duanya adalah, Panembahan Bodho dan Ki Ageng Jejer. Panembahan Bodho bertugas di Bantul sebelah Barat sedangkan Ki Ageng Jejer bertugas di Bantul sebelah Timur.

Hubungan inilah yang memungkinkan, kesenian Rodat seperti berpusat di tempat keduanya bersemayam. Panembahan Bodho yang berdomisili di daerah Wijirejo dan Ki Ageng Jejer yang berdomisili di Jejeran. Tidak hanya kedua daerah tersebut yang berkembang kesenian Rodat. Santri-santri dan ahli bait kedua tokoh tersebut pun mengembangkan kesenian ini di daerahnya.

Salah satunya adalah Bejen. Sebuah daerah di arah tenggara dari pusat kota Bantul. Sebuah kademangan besar di masa lalu. Di sini ditemukan salasilah keturunan dari Panembahan Bodho dan juga ada sebagian santri dari Ki Ageng Jejer. Dan ditemukan pula sisa-sisa peninggalannya berupa kesenian Rodat.

Rodat, kesenian tabuhan rebana khas jawa dengan suguhan menari yang elok. Versi ini mengartikan bahwa Rodat adalah seni tabuhan rebana sedangkan suguhan tarian tersebut bernama Tari Leyek. Keduanya memang tidak dapat dipisahkan, sehingga cara pengartian yang berbeda adalah hal yang wajar. Dan kesenian inilah yang merupakan hasil dari olah keterampilan masyarakat Bantul sendiri.

Sunday, November 27, 2011

Kademangan merupakan kembangan dari sebuah kata dasar "demang" yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai artian kepala distrik atau wedana pada zaman pemerintahan Belanda. Sehingga, dapat dibilang kademangan merupakan suatu wilayah yang dipimpin oleh seorang Demang.

Bejen, sebuah pedukuhan di kelurahan Bantul. Letaknya tenggara jantung kota Bantul, mungkin sekitar satu kilonan meter bila diambil sebuah garis lurus. Rumah Sakit Panembahan Senopai Bantul diambil garis lurus ke barat sekitar 200an meter. Inilah sebuah dusun yang mempunyai nama Bejen.

Banyak cerita yang menceritakan sebuah sejarah di mana Bejen merupakan sebuah nama kuno. Menurut pengamatan penulis, nama Bejen mungkin sudah ada bersamaan dengan nama Kademangan Ngepal (Palbapang sekarang) atau lebih muda puluhan tahun setelah itu.

Sekedar untuk mencicil sebuah proyek penulisan sejarah Bejen, mungkin ada beberapa analisa yang dapat menjadi acuan bila Bejen merupakan sebuah Kademangan dan merupakan desa kuno pula.

1. Sebuah sil-silah tentang trah Bejen yang berasal dari keturunan Prabu Brawijaya V (Prabu Kertabhumi). Dalam hal ini, mungkin pada generasi ke-berapa dari darah Brawijaya mulai menetap di Bejen. Dalam sil-silah ini disebutkan pula nama Panembahan Bodho yang berada di daerah Wijirejo, Pandak.


2. Adanya cerita tentang rumah-rumah megah dan besar-besar lengkap beserta pagar-pagar menjulang di daerah Bejen, meski saat ini semua itu mungkin telah hilang. Namun, cerita turun temurun pun juga merupakan referensi yang cukup baik untuk dikembangkan lebih lanjut. Khususnya terhadap sebuah nama yang menjadi sesepuh Bejen yakni Simbah Demang putera dari Josetro alias Setro Menggolo alias Joyo Setiko.

3. Sebuah cerita dari kyai-kyai sepuh tentang perjalanan Sunan Cirebon yang berusaha menangkap lintang yang jatuh di Makam Imogiri pada zaman Sultan Agung Hanyokrokusumo. Tepat disekitar Langgar Al Mujahiddin (Pondok Pesantren Hidayatul Falaah) itulah Sunan Cirebon sekedar melepas penat sambil menunaikan ibadah sholat. Konon, dahulu ada seorang kyai yang melihat cahaya cemlorot dari daerah langgar tersebut.

4. Sebuah kesenian Sholawatan Rodat yang merupakan peninggalan Panembahan Bodho di daerah Wijirejo. Kemungkinan karena ada salah satu trah Bejen yang mempunyai darah Panembahan Bodho, proses adanya Kesenian Rodat di Bejen melalui sebuah mobilitas budaya oleh keturunan Panembahan Bodho. Sampai saat ini, kesenian tersebut masih lestari dan menjadi khasanah kebudayaan di Bejen.

Wilayah cangkupan Kademangan Bejen belum diketahui secara pasti atau hanya menyusuri kisah-kisah lama tentang Bejen. Kemungkinan wilayah Pedukuhan Bejen saat ini ditambah beberapa wilayah lain. Semua ini tidak akan menjadi legenda bila tidak ada nama yang menjadi sebuah tanda tanya besar bagi keturunan Bejen, yakni nama Kyai Demang di Bejen dalam suatu sil-silah yang diberikan oleh Simbah Badjuri (Bejen RT 06), almarhum Simbah Djalal Syayuti, serta Simbah Moch, Maksum (kaum rois Bejen).

Thursday, October 27, 2011



Kalau baca judul postingan kali ini, jangan kira itu adalah Royal Wedding yang diadain di Kerajaan Inggris. Inggris boleh aja ada Royal Wedding, tapi kebudayaan Inggris menurut gue nggak ada ISTIMEWAnya. Bosen liat upaca seperti itu, justru upacara pernikahan ala Kerajaan Inggris sudah pada diadopsi oleh masyarakat perkotaan di Indonesia, ternyata nggak cuma anak ajah yang diadopsi. hha, kali ini agak SARA.

Indonesia yang kaya budaya ini salah satunya mempunyai khasanah kebudayaan yang tinggi akan nilai-nilai keluhuran sehingga menyusunlah sebuah kemajemukan budaya di Indonesia. Kebudayaan Jawa merupakan salah satu kebudayaan yang mencitrakan suatu suku di pulau Jawa (Jawadwipa) bagian tengah. Dua situs kebudayaan selalu menjaga budaya ini ada dan abadi di Indonesia menjadi situs pariwisata Indonesia yang ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun luar negeri.

Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, sebuah situs budaya, sumber dimana kebudayaan itu berasal dan terjaga hingga kini karena sebuah keistimewaan. Saudaranya yang lain, Kasultanan Surakarta Hadiningrat cahyanya mulai pudar dengan beberapa keadaan. Tapi, semua itu tentu sudah diatur oleh Tuhan, yang tentu saja menentukan sebuah nasib bagi sebuah bangsa pula.

Gusti Kanjeng Raden (GKR) Bendara dan Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Yudhanegara menyelenggarakan perhelatan besarnya dengan sebuah adat dan budaya yang berkembang di Daerah Istimewa Yogyakarta. Perhelatan pernikahan tersebut mempunyai nama jawanya Pawiwahan Ageng. Inilah yang disebut sebagai Royal Wedding 2011.

Prosesi pernikahan ini tak luput dari sarat khasanah budaya Yogyakarta. Mulai dari prosesi yang dianggap penting hingga bagian-bagian  terkecil darinya. Bala prajurit abdi dalem Keraton Ngayogyakarta tak luput dari tugasnya sebagai seorang abdi kerajaan, ratusan bala prajurit dikerahkan untuk turut serta dalam mendukung kelancaran dan berjalannya prosesi adat ini.

Bagi rakyat Kasultanan Ngayogyakarta, perhelatan ini juga merupakan pesta rakyat Yogyakarta. Dari pihak Keraton sendiri menyediakan wahana pesta tersebut dengan menggelar Angkringan Gratis pada malam hari Selasa. Adanya Angringan Gratis menjadi daya tarik pariwisata tersendiri. Ratusan bahkan ribuan warga DIY ikut menikmati makanan yang dihidangkan sebagai menu makan di angringan gratis. Satu makanan pun yang masuk dari mulut untuk menyenyangkan perut tidak dipungut sepeser pun rupiah dari pembelinya.

Hampir dua pekan sudah perhelatan terbesar di Nusantara terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Hampir dua pekan pula GKR Bendara meninggalkan kota dimana ia dibesarkan. Rakyat Yogyakarta tentu saja terus merindukan hal-hal ini kembali terjadi di tanah Yogyakarta. Menurut warga Yogyakarta, tanah yang dipijaknya sekarang hingga ibu pertiwi memaninggil ruhnya dan jasadnya dikembalikan pada tanah merupakan Tanah Perdikan dari Indonesia. Semua akan merasakan tetesan surga di bumi Yogyakarta.


YOGYAKARTA ISTIMEWA

Sunday, October 16, 2011

Purnama, begitu pula kisah ini terangkat dari sebuah waktu dimana sasandara bercahaya terang bersamaan dengan sempurnanya bentuknya. Derai air mata sejarah mengalir begitu pula mengikuti zamannya yang kian menua. Kala malam mebasahi bumi Mataram dan purnama pun menghiasi malam yang gelap gulita, itulah saat terindah ketika melihat kemegahan pesona bangunan sejarah ini.

15 Oktober 2011, sasandara yang penuh itu berselang datang. Sudah dilupakannya seberkas cahaya beberapa waktu kemarin menghiasi pelataran Candi Prambanan. Namun, malam ini gebyaran pesona indahnya cahaya di Candi Prambanan berbeda dengan apa yang pernah diberikan oleh Sendra Tari Ramayana kepada candi yang berjumlah seribu ini.

Opera van Java, memberikan kesan indah bagi Candi Prambanan untuk kali ini. Terlebih restu yang diberikan oleh Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat kepada OVJ untuk menggelar serangkaian acara roadshow di Yogyakarta. Kota Yogyakarta merupakan kota ketujuh acara roadshow Opera van Java berlalang buana di Jawadwipa - Balidwipa.

Nuansa latar pangung kali ini sungguh menakjubkan. Meski alur ceritanya nggak ada hubungannya dengan Candi Prambanan tapi nuansa yang diberikan Candi Prambanan untuk alur ceritanya membuat nuansanya beda. Pesona indahnya candi Hindu ini dengan disoroti lampu dari kaki candi membuat kesan Candi Prambanan cantik.

Parto, Azis, Andre, Nunung, dan Sule menghibur warga Yogyakarta dengan lawakan mereka bersama bintang tamu Soimah "Ayu Ting Ting" dan Marwoto. Lakon yang mereka bawakan kali ini berjudul "Klentang Klenting Klentung". Seperti biasanya, mereka membawakannya dengan penuh guyon kesana-kesini yang membuat kocak perut penonton.

Inilah titik dimana roadshow yang digelar Opera van Java selama ini berkiblat. Ketika di dalam studio, mereka hampir ketika lakon tertentu menayangkan background candi Prambanan serta candi lainnya. Tetapi untuk kali ini, OVJ live mempertontonkan kemegahan dari candi Hindu terindah di Dunia sebagai latar pangung yang mewah. Bahkan aku bilang sebagai latar pangung termewah dari pada latar pangung ulang tahun salah satu televisi swasta.

Berandai jika Prambanan termasuk 7 Keajaiban Dunia Terindah, pasti akan menjadi kebanggaan bangsa Indonesia bersamaan dengan Pulau Komodo. Salah satu peninggalan bersejarah di Indonesia meski masih ada candi lainnya, namun setidaknya Candi Prambanan mempunyai cerita cinta yang lain.

SELAMAT KEPADA OPERA VAN JAVA YANG TELAH MENGHIBUR WARGA YOGYAKARTA.

YOGYAKARTA ISTIMEWA

Monday, September 12, 2011

Budaya Politik itu apa?

Kita artikan makna Budaya Politik satu persatu. Mungkin, dari makna artian per kata membuahkan suatu kesimpulan yang dapat diambil sebagai pengertian dari Budaya Politik.

Budaya itu apa?
Budaya adalah suatu sikap dari manusia yang membentuk suatu pola bertingkah laku yang akan menjadi suatu kebiasaan dari manusia tersebut dan dari budaya tersebut terciptalah sebuah peradaban yang bernama "masyarakat". Ini dikarenakan salah satu ciri masyarakat adalah memiliki suatu budaya yang khas,

Politik itu apa?
Politik dalam bahasa Indonesia diambil dari Policy yang artinya suatu Kebijakan dan dari Polis yang berarti Negara Kota. Menurut saya, Politik adalah suatu kebijakan dari suatu instansi pemerintah yang menduduki strata tertinggi dalam suatu negara.

Dapatkah mengambil inti-inti yang terkandung dalam kata "Budaya Politik"?
Kurang lebih dari saya mengungkapkan bahwa :
Budaya Politik adalah suatu orientasi pola tingkah laku masyarakat yang khas untuk perpartisipasi aktif dalam menentukan/mengambil keputusan dalam suatu sistem politik. 

Budaya Politik di Indonesia tidak akan maju ketika kesadaran akan berpolitik itu tidak ada dalam diri individu masyarakat Indonesia. Tentunya juga dengan peranan politik yang sehat dan baik, tidak digunakan untuk keperluan pribadi atau pun untuk kelompok tertentu. Budaya Politik itu sudah tertanam di Indonesia (Nusantara) sejak zaman kerajaan-kerajaan yang menempati wilayah dari Nusantara. Mereka menggunakan aspirasi politiknya dengan baik, seperti pula menentukan keputusan kerajaan secara mufakat yang berarti menanamkan rasa demokrasi.

Barang tentu, Pancasila adalah dasar dari kesadaran berpolitik bagi bangsa Indonesia, dan mengaplikasi menjadi suatu semboyan "Bhineka Tunggal Ika". Budaya Politik adalah sesuatu yang penting pula bagi kaum muslimin, dimana Kanjeng Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan Budaya Politik itu dengan baik dan bijak, secara netral dan membela suatu kebenaran yang syah, memberikan fatwa-fatwa, dawuh-dawuh kepada umatnya secara politikal.


Orientasi berpolitik masyarakat Indonesia pun ternyata dibagi menjadi 3, yakni

1. Orientasi Kognitif
Pandangan politik masyarakat yang bersifat kognitif yakni seperti pengetahuan atau wawasan tentang obyek politik.

2. Orientasi Afektif
Pandangan politik masyarakat yang bersifat afektif yakni seperti sikap-sikap ataupun nilai terhadap obyek politik.

3. Orientasi Evaluatif
Pandangan politik masyarakat yang bersifat evaluatif yakni dengan penilaian ataupun pendapat terhadap obyek politik.

Obyek Politik? Apa lagi itu?
Obyek dalam SPOK menduduki sebuah tujuan ataupun sasaran dalam membuat kalimat. Obyek Politik merupakan obyek yang akan menjadi sasaran sebuah politik itu berjalan, seperti:

1. Obyek Politik Umum
Sasaran perpolitikan ini adalah di hal-hal umum, seperti bangsa, negara, simbol, atau yang lainnya.

2. Obyek Politik Input
Terdapat kata kunci "Input" berarti sasaran yang dituju kali ini adalah sebuah masukan perupa pendapat dari kendaraan politik atau yang lebih tepatnya adalah lembaga politik.

3. Obyek Politik Output
Di obyek politik ini terdapat pula kata kunci "output" yang dapat menjadi acuan bahwa sasaran kali ini adalah suatu kebijakan, keputusan yang itu berupa peraturan ataupun hal-hal yang lain hasil dari input.

Thursday, September 8, 2011

Berhubung gue masih sekolah, banyak noh tugas tumpuh-tumpuk di meja gue sama di otak gue. Sampai-sampai liburan lebaran pun tugas masih tetep ajah ada. Hingga masuk sekolah hari ini (8/9) tugas itu juga belum ada yang kelar. Guru-guru pada enak yaa? Tinggal koreksi sama ngasih nilai (nilai tugas gue yang tinggi ya Pak, Bu Guru).

Memang, sekolah di sekolah yang notabene terpandang di kabupaten Bantul memang mengenaskan. Bukan berarti menyepelekan, tapi tugasnya itu loh, MasyaAllah banget. Guru-gurunya memang top seBantul, mereka memang dididik untuk mengajar di sekolah RSBI ini. Tuh, RSBI lhoh sekolah gue. Rintisan Sekolah Bertarif Internasional.

Hari masuk sekolah setelah lebaran, pastinya diwarnai dengan apel pagi di terik matahari yang sudah meninggi waktu dhuha neeh. Syawalan atau Halal bi Halal pun kemudian dilanjutkan setelah apel pagi selesai. Entah, syawalan sekolah kali ini ada yang kurang. Hu uh, kurang sholawatnya dong. Huft.

Tugas paling asyik neeh, tugas dari mapel BK. Tugas kelompok sich, tapi yang bikin makalah gue and temen gue cuma bikin PPTnya doang. Huh....

Tugasnya suruh nyari info tentang "Pernikahan Dini",,, tuh khan asyik materinya. Baca-baca artikel dari SEO di Google jadi pengen. Nggak ah,,, gak jadi, aku pengen nerusin kuliah dulu di STAN (?). Moga ajah tahun ku besok STAN udah di buka lagi. Amin.

Problema sosial masyarakat kelas bawah adalah menikahkan anaknya yang masih di bawah umur agar dapat mandiri dan hidup tidak membebani orang tuanya. Itu salah satu penyebab maraknya pernikahan dini di masyarakat khususnya strata sosial kelas bawah. Yang gue baca gitu sich.

Cewek-cewek lulus SMP kebanyakan udah pada bledug duluan ketimbang nikahnya. Astaghfirullah!!!! Mereka kebanyakan dari kalangan bawah juga sich. Pacaran mereka sudah di luar batas peri kemanusiaan dan peri keadilan dan tidak mendukung apa yang di ajarkan oleh agama maupun negara.

Buat yang baca postingan catatan gue, hindari nikah dini yaa.... Ini merupakan wujud dari kesetiaan kita kepada Allah ta'ala bahwa jodoh Dia yang atur. Ngajinya juga ditambah rajin, dasar-dasar kehidupan malah justru terlahir dari ilmu agama loh.

Postingan gue cukup sekian ajah, dan gue akan akhiri masa bujang gue setelah sekolah (kuliah juga sekolah lho). Wasalam.

Sunday, September 4, 2011

Nih postingan terbaru gue(bahasanya enggak banget), belum juga selesai lebaran juga khan? Nih, about night of takbir atau istilah Inggrisnya mengatakan Malam Takbiran. Dari judul postingan nyambung gak sih? Takbiran sama kartu (lebaran) itu nyambung gak?

Dimana?
Sebuah pertanyaan itu pasti sudah mengangan-angan dimanakan malam takbiran ini?

Penting nggak sih?
Terserah elu-elu yang baca, penting atau nggaknya,,, ntar bikin polling ajah... ^.^

Dimana?
Acara akbar ini diadakan oleh sebuah lembaga terbesar di kampung kami karena tidak ada organisasi pemuda kampung sehingga aku pun menamainya dengan lembaga terbesar di kampung kami. Takmir Ramadhan Masjid Darussalam Bejen adalah penyelengara acara terakbar di kecamatan Bantul, kabupaten Bejen (KH Muhtarom Idris).

Acaranya apa dong?
Acaranya tuh Pesta Kembang Api Simpang Lima. Why Simpang Lima? Karena kebetulan otak-otak (makanan) kami berfikiran perempatan Bejen itu bentuknya Segi Lima (Simpangan Lima). Di tempat ini, triliyunan kembang api disumet sebagai pemeriah malam Takbiran. Acara ini di gelar pada acara Takbir Keliling Dusun Bejen.

Dari merk kembang api Roman Candle sampe merk abal-abal pun tak kalah memeriahkan perempatan ramai itu-lalu lintas sudah di atur sama yang punya jalan (polisi)-. Kok polisinya gak nertibin yang pada nyalain kembang api? Karena polisi bukan PolPP.

Meriah sih pestanya, jalan pun macet bak arus mudik-balik digabungin jadi satu. Wuah, catatan berharga untuk diceritakan ke anak cucu. Meletusnya kembang api sama seperti suara boom rikalton dan jewe mariot. Duar!!!

Menurut kami, semua pesta itu kurang meriah karena seperti sudah sepantasnya kita merayakan hari kemenangan dengan perayaan yang demikian (sejalan). Menurut kami, memeriahkan malam takbiran dengan arus balik adalah sesuatu yang meriah yakni dengan bermain remi, siapa kalah ia harus takbir selama masa hukuman itu habis.

Namun, kisah berikutnya adalah kemurungan para peremi yang tergabung dalam wadah organisasi KOREM (Komandan Remi) yang akan gue ceritain besok lain kali. Intinya postingan ini adalah Takbiran ala KOREM.

(catatan harian ku yang galau)
             Tarian Leyek ini berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Tidak tercatatnya dalam buku-buku pengetahuan umum, membuat saya merasa tertarik untuk mengetahui secara lengkap tentang tarian ini. Berikut ini adalah seuntai cerita tentang keberadaan tarian khas Islam Yogyakarta.
Peradaban kuno tentang Kerajaan Mataram Islam tentu saja tidak bisa dipisahkan dengan asal mula tarian rakyat ini. Terutama pada perkembangan agama Islam di tanah Mentaok ini. Lain cerita tentang Syech Belabelu dan Syech Maulana Maghribi yang berada di pesisir selatan.
Tersebutlah seorang darah bangsawan Majapahit, nama kecilnya adalah Raden Trenggono, setelah belajar kepada Sunan Kalijaga namanya diubah menjadi nama seorang yang benar-benar mengetahui segala seluk beluk agama Islam yakni Panembahan Bodho. Singkat cerita Panembahan Bodho memenuhi tugas yang diembannya di daerah Tanah Perdikan Mangir.
Jauh sebelum peristiwa Ki Ageng Mangir Wanabaya tewas di tangan Panembahan Senopati. Kerajaan Islam kedua di tanah Mataram yang belum pernah mencapai kejayaannya, Kerajaan Islam Mataram Kidul.
Peradaban Islam itu mulai tumbuh dengan segarnya di tanah ini, meski penghulu tanah perdikan ini sebelum Wanabaya tidak mau masuk Islam. Terkenallah sebuah permainan musik yang diciptakan oleh Panembahan Bodho dengan salah seorang santrinya, yakni Kesenian Rodat.
Banyaknya orang yang berjoget ria ketika lantunan sholawat nabi yang diiringi oleh Kesenian Rodat membuat Panembahan Bodho merasa harus meluruskan, bahwa boleh saja senang ria dengan sholawat atau maulid tapi jangan sampai seperti kelewatan. Apa boleh buat, dengan dipandu oleh santri-santrinya Panembahan Bodho berusaha meluruskan jogetan itu menjadi sebuah tarian yang sopan namun tidak mengurangi rasa gembira di hati.
Akhir dari sebuah perjalanan peristiwa itu terciptalah Tarian Leyek untuk mengiringi Sholawat Maulid yang dimusiki oleh Kesenian Musik Rodat.
Tariannya semangat suka ria yang mencerminkan bagaimana cara menyambut Nabi Muhammad saw yang diyakini oleh masyarakat hadir ditengah-tengah perayaan Maulid itu. Alunannya seperti ombak pantai Selatan yang tajam namun indah. Properti yang digunakan berupa tipas atau kipas.
Kesenian Rodat dan Tarian Leyek ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Bisa saja hanya Kesenian Rodat, namun rasanya ada yang kurang lengkap tanpa hadirnya Leyek. Kedua kesenian ini bergembang terus di daerah Bantul, Yogyakarta seperti Kauman Wijirejo, Mangir, Ngeblak, Sabunan, dan daerah lain.

Saturday, September 3, 2011

Tersebutlah sebuah desa dengan segudang kreativitas agar mereka diliput oleh Mass Media. Dan berikut adalah hasil dari liputan koran Merap*.


Kreativitas Pemuda Dusun Bejen : Lagu Unik Penanda Sahur

Gundul-gundul pacul cul, gemblelengan, nyunggi nyunggi wakul kul gemblelengan, wakul ngglimpang segane dadi sak latar.

Itulah salah satu lirik lagu Jawa yang dilantunkan Anas Nefiyanto, Jayid dan belasan pemuda masjid diiringi tabuhan kentongan maupun bass sambil keliling menyusuri jalanan kampung Dusun Bejen Bantul, Sabtu (6/8) dinihari. Begitu nyanyian selesai langsung disusul teriakan sahuuur..sahuuur.

Saat rombongan gugah sahur ini melewati gang-gang kampung, sayup-sayup kemudian terdengar suara aktivitas di rumah para warga. Mereka yang mendengar suara gugah sahur ini kemudian beranjak menuju ke dapur untuk mempersiapkan menu sahur di rumahnya. Yang pasti dengan adanya kegiatan gugah sahur oleh para pemuda masjid ini para warga banyak yang merasa terbantu. Efek langsung dari kegiatan kreatif ini para warga kampung jadi bisa melakukan persiapan untuk sahur lebih awal. Dengan adanya tradisi gugah sahur ini harapannya memang agar para warga kampung tidak ada yang terlambat mempersiapkan menu untuk sahur.

Tradisi unik ini merupakan tradisi gugah sahur yang dilakukan para pemuda Masjid Darussalam Dusun Bejen Bantul yang sudah rutin mereka lakukan saat Bulan Ramadhan. Dengan alat musik beraneka ragam, mereka berkreasi melakukan gugah sahur dengan lantunan lagu unik yang menghibur.

Koordinator kegiatan, Mazdan kepada Merapi menyatakan, tradisi gugah sahur ini sudah berlangsung beberapa waktu. "Kegiatan ini diolah oleh takmir masjid. Tujuannya untuk membangunkan warga sahur khususnya saat Bulan Ramadhan," papar Mazdan.

Dalam setiap kali keliling kampung, ada 12 sampai 16 orang pemuda yang turut serta. Saat keliling untuk melakukan gugah sahur, mereka sudah membawa peralatan musik masing-masing. Tugas mereka juga beda-beda. Ada yang khusus penabuh Bass, ada juga yang menjadi vocal. Khusus yang kebagian tugas vocal, mereka berada di barisan paling depan sambil membawa megaphone.

Menurut penuturan Mazdan, kegiatan gugah sahur ini pertama kalinya dilakukan di rumah warga. Karena kegiatan ini sifatnya umum kemudian diakomodir oleh takmir hingga menjadi format seperti sekarang. "Dalam setiap malamnya, kami mulai keliling pukul 02.00," jelas Mazdan. (Shf)-b

 

Friday, September 2, 2011

Waw, nih postingan terbaru dari ana...
Ana lihat, banyak akhir-akhir ini make tarian ini, terakhir dari tvon*,

Tahu Tarian Whirling?
Sebenarnya sich saya juga belum terlalu paham soal menyoal tentang tarian ini. Tapi yang saya pelajari adalah bagaimana nilai filosofisnya yang terlihat jelas pada setiap gerak tarinya. Orang yang pertama melihat gerak tarian ini pasti bulu kuduknya berdiri, tapi jangan artikan bahwa ada makhluk ghaib lho!!

Tarian inilah yang mengambarkan bagaimana makrifat kehidupan seorang manusia di dunia. Tarian yang mengajarkan kepada kita tentang bagaimana nilai pandang sebagai sufi menjalankan ibadahnya untuk Allah swt. Mulai dari pakainan yang dikenakan oleh si penari sampai ke geraknya mengambarkan jelas tentang kematian manusia.

Berputar, itulah arti dimana manusia ini selalu berputar sesuai dengan takdir yang diturunkan dan digariskan oleh Allah swt. Mulai dari Nabi Adam as hingga Nabi Muhammad saw mengambarkan keberputaran juga. Umur manusia yang terus saja berputar pun demikian.

Memakai pakaian serba putih, arti dari kain kafan yang kelak membalut kita dalam kesendirian dalam liang kubur. Adalagi yang menyebutkan bahwa nilai putih ini adalah suatu nilai keruhanian.

Waw, jadi inget video klipnya "Laskar Cinta"